header-int

Isra Miraj: Antara Metafisika, Shalat, dan Pembentukan Kepribadian Manusia

Jumat, 30 Jan 2026, 20:42:33 WIB - 2 View
Share
Isra Miraj: Antara Metafisika, Shalat, dan Pembentukan Kepribadian Manusia

Peristiwa Isra’ dan Mi’raj bukan sekadar kisah perjalanan Nabi Muhammad saw. yang melampaui hukum ruang dan waktu. Dalam perspektif filsafat Islam, peristiwa ini justru menantang cara berpikir manusia modern yang kerap membatasi kebenaran hanya pada apa yang bisa diverifikasi secara empiris. Mi’ra sebagai perjalanan Nabi dari Masjid al-Aqsha menuju Sidrat al-Muntaha berada di wilayah metafisika, sebuah ranah yang secara sadar diakui melampaui kapasitas rasio manusia.

Karena itu, menuntut pembuktian empirik atas Mi’raj sesungguhnya adalah kekeliruan kategoris. Rasio memang alat penting dalam Islam, tetapi bukan satu-satunya sumber kebenaran. Wahyu hadir justru untuk membuka horizon manusia atas realitas yang tidak dapat dijangkau oleh akal semata.

Peristiwa Mi’raj yang terjadi pada 27 Rajab dalam waktu yang sangat singkat merupakan kejadian spektakuler, baik pada masa Nabi maupun hingga hari ini. Reaksi keras kaum Quraisy pada waktu itu mencerminkan kegelisahan rasional manusia ketika dihadapkan pada realitas metafisik. Namun Islam tidak berhenti pada keajaiban peristiwa, melainkan menekankan makna dan misinya.

Di sinilah letak signifikansi utama Isra’ Mi’raj, perintah shalat lima waktu. Shalat bukan sekadar “oleh-oleh” Mi’raj, melainkan inti dari seluruh peristiwa tersebut. Dalam kerangka pembinaan manusia, shalat adalah fondasi pembentukan kepribadian. Ia disebut sebagai tiang agama karena menopang keseluruhan bangunan spiritual dan moral seorang muslim.

Secara filosofis, shalat adalah praktik kesadaran ilahiah yang terus-menerus. Ia bukan hanya ritual tubuh, tetapi latihan eksistensial untuk menghadirkan Allah dalam setiap gerak kehidupan. Karena itu, Al-Qur’an menegaskan bahwa shalat seharusnya mampu mencegah perbuatan keji dan mungkar. Namun pertanyaan kritis kemudian muncul; mengapa kejahatan tetap marak meski shalat dijalankan?

Pertanyaan ini justru mengajak kita untuk mengevaluasi kualitas shalat itu sendiri. Shalat yang hanya berhenti pada gerakan fisik, tanpa kesadaran batin, kehilangan daya transformatifnya. Esensi shalat bukan pada banyaknya rakaat, melainkan pada kehadiran Tuhan dalam kesadaran pelakunya.

Hal ini tercermin dalam struktur shalat itu sendiri. Ia diawali dengan pengagungan kepada Allah, lalu di tengahnya menghadirkan Rasulullah melalui salam, dan ditutup dengan doa keselamatan bagi seluruh hamba yang saleh. Dengan demikian, shalat mengandung tiga dimensi sekaligus: hubungan dengan Tuhan, keteladanankenabian, dan tanggung jawab sosial. Inilah yang membuat shalat sejatinya bersifat transformative mengubah cara berpikir, bersikap, dan bertindak.

Makna ini juga sejalan dengan isyarat dalam Surah Al-Isra ayat pertama, ketika Allah menyebut Nabi sebagai ‘abd (hamba). Status kehambaan inilah yang justru menjadi prasyarat perjalanan spiritual tertinggi. Secara filosofis, Mi’raj mengajarkan bahwa puncak kemuliaan manusia bukan pada kekuasaan atau pengetahuan, tetapi pada kesadaran kehambaan dan kesiapan menjalankan misi ilahi.

Dimensi etis Mi’raj semakin kuat melalui kisah simbolik pilihan antara susu dan khamr. Pilihan Nabi atas susu menggambarkan kejernihan fitrah dan kesadaran moral. Hidup, sebagaimana ditunjukkan dalam peristiwa ini, adalah rangkaian pilihan. Manusia bebas memilih, tetapi setiap pilihan selalu membawa konsekuensi.

Pesan ini relevan lintas zaman: manusia modern dihadapkan pada lebih banyak pilihan daripada sebelumnya namun sering kehilangan arah moral. Isra’ Mi’raj mengingatkan bahwa kebebasan sejati bukanlah memilih tanpa batas, melainkan memilih dengan kesadaran, nilai, dan tanggung jawab.

Isra’ Mi’raj bukan hanya peristiwa sejarah atau ritual peringatan tahunan. Ia adalah peta jalan spiritual dan etis bagi manusia: tentang keterbatasan rasio, pentingnya kesadaran ibadah, dan tanggung jawab moral dalam setiap pilihan hidup. Jika shalat benar-benar dihayati sebagai spirit Mi’raj yang diulang setiap hari, maka ia tidak hanya mencegah kejahatan, tetapi juga membentuk manusia yang utuh beriman, berakal, dan berakhlak.

eksyar Temukan Masa depan Gemilang di STAI DDI Pangkep | Bergabung bersama kami di Program Studi PGMI | kampus hijau peradaban islam, menjadi civitas akademik yang unggul, mandiri dan berbudaya
© 2026 STAI DDI Pangkep | Developed by IT STAI DDI Pangkep Ikuti Media Sosial Prodi Ekonomi Syariah STAI DDI Pangkep : Facebook Twitter Linked Youtube